oleh:

Dr.dr.Soroy Lardo, SpPD-KPTI, FINASIM

Divisi/Sub SMF Penyakit Tropik dan Infeksi

Departemen Penyakit Dalam

RSPAD Gatot Soebroto

Pendahuluan

          Covid-19 yang terjadi sejak dua bulan lalu di Indonesia memberikan pembelajaran penting sebagai infeksi virus yang menimbulkan pandemi dan bagaimana kita bersikap, baik sebagai individu, komunitas dan pemegang otoritas kebangsaan.

     Indonesia sebagai negara tropis sudah melekat dengan keanekaragaman penyakit infeksi sejak kemerdekaan bahkan sebelumnya. Kita sudah terbiasa dengan kejadian luar biasa (outbreak) dengue dan malaria, bahkan menghadapi saat gempa yang melanda di berbagai daerah bersamaan merebaknya kasus infeksi. Menghadapi hal tesebut, kapasitas dan kebijakan pemerintah selalu siap mengelola Covid-19, didukung dengan proses learning by doing bersamaan implementasi di lapangan.

          Infeksi virus SARS-Cov 2 mulai merebak di China 31 Desember 2019, tanggal 30 Januari 2020 WHO mencanangkan sebagai Public Health Emergency (PHEIC), tanggal 11 Februari 2020 WHO menamai penyakit ini sebagai Covid -19 dan tanggal 12 Maret WHO mencanangkan Covid-19 sebagai pandemi.

          Covid-19 sudah menjadi Transboundary Disease, tidak hanya sebagai entitas penyakit influenza yang dapat sembuh sendiri (selflimited), namun harus diamati dalam tataran dan perspektif yang lebih luas. Transboundary disease mengandung makna Covid-19 sebagai penyakit infeksi multispreader yaitu dapat mengganggu multisektor kehidupan. Kondisi ini memungkinkan terciptanya penyakit menular diantara manusia, hewan peliharaan dan satwa liar, yang ditandai dengan adanya perubahan pembangunan sosial ekonomi, praktek pertanian baru, kepadatan penduduk dan migrasi masyarakat miskin.

          Kita masih meraba kondisi fase dan gelombang Covid -19 di Indonesia untuk beberapa bulan ke depan. Memerlukan analisis konstekstual bernafaskan impelementasi realitas dilapangan dan analisis substanstial sebagai model epidemiologi yang memiliki nilai prediktif.

          Salah satu tataran utama yang perlu menjadi fokus semua pihak adalah Covid-19 dalam perspektif Health Security, sebagai elemen penting hadirnya ketahanan nasional yang didukung oleh TNI sebagai garda terdepan.

Analisis Determinan Covid-19

        Analisis Determinan menghadapi Covid-19 adalah menempatkan Health Security sebagai tempat berpijak dan titik tolak dalam perencanaan, kebijakan dan pengambilan keputusan mengendalikan Covid-19, tidak melebar menjadi suatu kejadian luar biasa infeksi yang mengganggu sendi-sendi ketahanan bangsa.

        Konsep Health Security yang menjadi acuan adalah pendekatan berbasiskan keilmuan sebagai kacamata prediksi dan protektif menyebarnya Covid-19 yaitu melalui Evidence Base Medicine (EBM) dengan tolok ukur yang jelas dan tepat, sehingga dapat dilakukan suatu analisis risk assessment, stratifikasi, skala prioritas dan pemilahan skala besar zona penyebaran, zona recovery dan zona aman.

          Dimensi kebijakan yang perlu diformulasikan adalah mewujudkan Health Security sebagai kekuatan nir militer berkemampuan menghadapi Covid-19, Integasi kebijakan yang perlu disiapkan adalah (1) Sistem Informasi Geomedik, (2) Kesiapan SDM Kesehatan, (3) Material kesehatan, yaitu tersedianya obat-obatan  dan bahan lain untuk penanganan Covid (4) Sarana dan Prasarana kesehatan adalah dukungan alat diagnostik untuk  Covid berat di rumah sakit dan alat skrining massal untuk menapis di tingkat komunitas, (5) Teknologi Kesehatan dan Sumber Daya Alam, yaitu mobilisasi kekuatan pakar teknologi bangsa untuk memproduksi berbagai elemen pendukung penting diantaranya ventilator, reagen, plasma konvalesen dan penyiapan vaksin, (6) Upaya kesehatan. Upaya kesehatan merupakan bagian penting dalam health security terkait dengan community responsibility untuk membangun networking fungsinya dalam pemberdayaan kesehatan di masyarakat. Upaya kesehatan adalah mata utama dan mata rantai health security untuk mensinergikan berbagai komponen bangsa menghadapi Covid-19, khususnya menjembatani kebijakan Kementrian Kesehatan di update sebagai kekuatan ketahanan nasional.

Networking System Kebijakan Covid-19

         Menghadapi Covid-19 membutuhkan effort dan energi yang senantiasa harus kita jaga.  Sebab Covid-19 memiliki “character building” yang berbeda dengan virus lainnya. Covid-19 memiliki perilaku dan kecederdasan virulensi mengadaptasi host untuk replikasi cepat di sel (khususnya paru) sehingga mudah terjadi ARDS (gagal nafas). Virus Covid-19 memiliki spike (tonjolan) yang berfungsi sebagai penarik (grabber) dan pembelah (clevelage) yang begitu

          Sudah menjadi keniscayaan menghadapi Covid harus terintegrasi dalam tautan klinis, komunitas dan institusional. Manajemen klinis menjadi tanggung jawab dokter yang berkompeten di rumah sakit dan manajemen komunitas menjadi tanggung jawab epidemiolog untuk membuat prediksi masukkan kepada pemerintah.

       Networking system Covid-19 bertumpu membangun partisipasi komunitas sebagai inti pergerakan dinamisasi di masyarakat. Pemberlakuan PSBB merupakan suatu gerakkan partisipasi komunitas untuk mendukung stratifikasi dengan berbagai segmen persepsi politik, kultur dan kinerja keterlibatan, menjadi faktor penting dalam merajut tali kebersamaan menjadi kekuatan bola ketahanan nasional.

         Kekuatan bola ketahanan nasional ini akan mengerucut sebagai proses poltik pengambilan keputusan berbasiskan suatu kohesivitas. Keputusan kohesivitas dilaksanakan berdasarkan prinsip group thinker yang memiliki kompetensi (multidisiplin) yang diperkuat dengan semangat kebangsaan. Setiap keputusan yang dibuat merupakan hasil kajian mendalam bernilai prediktif, protektif di masyarakat dengan umpan balik untuk menghasilkan inovasi baru kebijakan.

        Kohesivitas pengambilan keputusan group thinker dalam konteks networking thinker Covid -19 sebagai kekuatan partisipatif komunitas dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Gambar Kohesivitas Group Thinker (Modifikasi)

        Mengkaji uraian yang sudah dikemukaan diatas, menunjukkan bahwa kebijakan menghadapi Covid-19 memerlukan dua elemen penting yaitu leadership dan networking thinker yang saat ini dimiliki oleh Gugus Tugas Covid-19 BNPB, perlu didukung berbagai elemen kepakaran sehingga gerakkan ini merupakan kekuatan kultur agent of change partisipasi masyarakat didasarkan kepada kesadaran dan kemandirian sebagai patriot bangsa.

Spirit Ketahanan Bangsa – Peran Babinsa

       Spirit ketahanan bangsa adalah kunci utama Health Security menghadapi Covid-19 melekat sebagai jiwa dan wawasan kesehatan bangsa setiap masyarakat menguatkan disiplin secara pribadi dan komunitas untuk mematuhi kebijakan pemerintah dalam menerapkan PSBB. Spirit ketahanan bangsa menjadi kekuatan strategi agen of change yang sampai saat ini di beberapa daerah belum dipatuhi oleh masyarakat.

         Healh Security dapat disosialisasikan sebagai kekuatan gerakkan masyarakat untuk menguatkan prioritas kebijakan menghadapi Covid-19 menjadi bagian intensifikasi dan peran kesehatan pertahanan mengisi ruang-ruang   agent of change dan kekuatan ruh kebangsaan menguak fungsi dan dinamisasi partisipasi masyarakat menjadi inti tubuh ketahanan nasional.

         Kekuatan yang bisa menggerakkan kekuatan Health Security ini adalah TNI. Proses ini sudah berjalan di masyarakat melalui peran Babinsa sebagai kekuatan fungsi mobilisasi dan keterpaduan penggerak masyarakat di daerah-daerah terutama memberian bantuan pangan bagi penduduk di desa yang membuthkan

       Peran Bintara teritorial untuk kurun waktu saat ini dan masa mendatang memperkuat fungsi pemberdayaan kesehatan dan ketahanan masyarakat, sebagai nilai juang Babinsa Teritorial merajut jejaring di masyarakat yang diwujudkan dalam bentuk organisasi yang kuat menjadi suatu realitas akar rumput yang berdampak terciptanya keberlanjutan masyarakat  peduli dan berkontribusi menghadapi Covid-19 sebagai Sustainability Development Community.

Kesimpulan

          Analisis determinan Covid-19 dalam perspektif Health Security adalah suatu substansi perlu dijembatani dalam konteks sinergi yang implementatif yang melibatkan system dan networking thinker sebagai kekuatan prediksi dan protektif mengawal ketahanan nasional dan spirit ketahanan bangsa yang diwujudkan peran Babinsa sebagai Sustainability Development Community (SDC) menghadapi Covid-19

Dr.dr.Soroy Lardo,SpPD-KPTI, FINASIM adalah Doktor Lulusan Universitas Gadjah Mada

silahkan download

Determinan Covid-19 Dalam Perspektif National Health Security.pdf

Bagikan