Kaleidoskop Riset Kesehatan Angkatan Darat : Sebongkah Kecil Spirit Hesti Wira Sakti (Bagian I)

       

Penelitian Kesehatan Angkatan Darat tidak pernah padam. Derap maju penelitian kesehatan angkatan darat mulai dikumandangkan tahun 2012 saat Dirkesad Brigjen TNI  dr Daniel Tjen, SpS, dengan dimulainya MOU dengan Kemendikti Ristek. Sejak itu peneliti kesehatan angkatan darat berjuang dan bertekad tidak ada langkah mundur. Beberapa penelitian dimulai, walaupun awalnya agak terseok, mengingat kami memang memiliki SDM yang minim, namun semangat yang membara untuk memajukan Litbang Kesad. Hal tersebut mendorong kerjasama dengan LIPI melaksanakan pelatihan dan sertifikasi terhadap 20 perwira Kesad untuk mendukung langkah lebih maju dari Lembaga Kesehatan Militer (Lakesmil), sebagai lembaga excellent riset kesehatan angkatan darat.

              Sejak itu gerak Lakesmil mulai menguak hasil dengan dipercayanya pengajuan penelitian khususnya infeksi dari Mabes TNI AD. Penelitian tersebut bergerak lambat namun dalam “tracknya” baik kerjasama dengan Eijkman, UNHAS dan ITD Unair. Bahkan surveyor Lakesmil tahun 2016 dilibatkan dalam Rikkus Vektora Balai Besar Vektor Salatiga.

       Peran kedepan Puskesad tentunya memiliki tugas yang berat. Kerjasama MOU dengan LBM Eijkman (Kapuskesad saat itu Mayjen TNI dr Bambang Pratomo Sulistiyanto MM),  diharapkan akan menuai nilai sejarah pengembangkan litbang kesad terutama dalam pembinaan SDM, jejaring penelitian, kajian lebih dalam terkait biomolekuler dan satu lagi…….sudah harus dibangun kultur meneliti sebagai bagian dari bangunan semangat dan inovasi Puskesad.

Peneliti dan Sertifikasi

            Jadi peneliti itu susah susah  gampang, perlu hati yang kuat untuk mengarunginya. Saat ini adalah era Evidence Base Medicine (EBM), untuk meneliti itu ada ukurannya, menentukan kualitas penelitian yang kita lakukan. Pelatihan Good Clinical Practise (GCP) menjadi hal wajib untuk dijalani mencakup pemahaman filosofi penelitian, proses dan batasannya, determinan yang harus dilakukan dan sejauh mana uji klinik itu perlu dipersiapkan.

            Mengingat peran riset di rumah sakit rujukan, beberapa rumah sakit (bahkan di daerah) sudah mulai mengembangkan unit risetnya. Hal ini, menunjukkan riset sangat penting untuk mengembangkan performance rumah sakit, bukan hanya berfokus untuk pelayanan. Bahkan ada rumah sakit yang melaksanakan suatu rencana kegiatan anggaran (RKA) untuk penelitian melalui suatu pohon  penelitian. Kegiatan Workshop GCP yang diselenggarakan oleh Eijkman Institute selama dua hari dalam rangka penelitian Tafenoquin sebagai radical cure untuk malaria vivax, kerjasama dengan Pusat Kesehatan Angkatan Darat (Puskesad). Diharapkan kedepan akan lebih banyak peneliti muda kesehatan angkatan darat yang mengikuti kegiatan seperti ini, dengan terciptanya hasil penelitian militer yang dihandalkan.

Foto-fotonya silakan ya disimak……sebagai bukti historis

Bagikan

Leave a Comment