Kaleidoskop Riset Kesehatan Angkatan Darat : Sebongkah Kecil Spirit Hesti Wira Sakti (Bagian 2)

           

            Riset Kesehatan Angkatan Darat itu ibarat bayi yang perlu disapih, lembaga risetnya (Lakesmil) “tidur” cukup lama. Ada sih riset kecil-kecilan, namun konteksnya lebih untuk mengisi program, bahwa lembaga riset ini wujudnya masih ada. Saat itu sekitar Agustus 2013, mungkin sudah menjadi skenario dan sudah diatur olehNya, kami yang masih perwira belum terlalu senior (saya dengan Dr Waras Budiman), setelah beberapa kali ‘memepet’ di beberapa simposium infeksi Prof Dr Nasronudin  (Direktur ITD UNAIR) akhirnya gol juga. “Nanti datang ya  acara internasional infeksi ITD UNAIR di Surabaya, kami mengundang Deputi Ketua BPPT untuk kita bicarakan kemungkinan kerjasama dengan lembaga riset anda, apa itu ? Oh ya Lakesmil, begitulah Lakesmil, nama yang sedikit dikenal, mungkin juga bagi kalangan Angkatan Darat. “Baik Prof, kami akan datang untuk memenuhi undangan sangat berharga ini”

             Seperti kita ketahui, sesuai dengan arahan senior, di Angkatan Darat jika ingin merintis suatu terobosan, pakai biaya sendiri dulu ya, nanti setelah prospeknya ada baru diajukan. Dengan budget sendiri yang kami siapkan, dan semangat bercampur harap cemas kami menuju Surabaya. Setelah makan siang, kami diperkenalkan kepada Deputi BPPT Dr Wayan. “Wah menarik ya, ternyata TNI AD memiliki lembaga riset kesehatan militer, nanti kita tindaklanjuti di Kemenristek di Jakarta.

           Suatu hari kami ingat saat itu kamis sore, kami ditelpon dari BPPT / Kemenristek “dr Soroy dan Dr Waras bisa datang Jumat pagi tgl 15 November 2013 besok pk 08.00-09.00 kita rapat menindaklanjuti pertemuan dengan Deputi BPPT, ada perintah dari beliau kerjasama dengan Kesehatan Angkatan Darat perlu direalisasikan. Besoknya kami mendatangi Kemenristek/BPPT untuk mengikuti rapat di lantai dua. Kami kaget juga ternyata yang hadir sekitar 10 orang, mereka pejabat eselon dua dan tiga. Setelah mendengarkan tentang Lakesmil, harapan, keinginan bahkan mimpi kami agar BPPT memfasilitasi dan memberi jalan agar Lakesmil dapat dikembangkan, tim BPPT setuju untuk merumuskan kerjasama untuk itu.

            Proses berikutnya adalah bak bola salju, jalan yang cukup panjang dan cukup melelahkan. Setelah kami laporkan kepada Kepala Lakesmil saat itu Kolonel CKM dr Ben Yura Rimba MARS dan Direktur Kesehatan Angkatan Darat Brigjen TNI dr Daniel Tjen, SpS, penyusunan MOU Kerjasama Riset dalam Payung Kemenristek Ristek  disiapkan oleh kami beserta Tim Ditkesad dan Tim dari BPPT/Kemenristek. Kami bulak-balik diantara dua tempat tersebut seperti kurir supaya MOU ini bisa terwujud. Tanpa terasa kami sudah seperti “penghuni” tempat ini, karena setiap pertemuan di BPPT, kami disambut dengan hangat dan bersahabat khususnya Dr Ahmad Saufi Staf Asisten Deputi BPPT (saat ini Atase Pendidikan Kedubes Jerman). Kondisi ini menjadi erat setelah komunikasi Dirkesad dan Sekjen Kemenristek berjalan baik.

        Setalah proses rapat bulak balik Ditkesad – Kemenristek/BPPT, akhirnya disepakati untuk melaksanakan kegiatan penandatanganan MOU dengan Kesehatan Angkatan Darat, sehingga Kesehatan Angkatan Darat menjadi bagian payung penelitian bersama 23 Perguruan Tinggi Indonesia.

               Pertemuan di Kemenristek tgl 2 Desember 2013 memutuskan untuk diacarakan tanggal kegiatan penandatanganan MOU Ditkesad dengan Kemeristek/BPPT dan ITD UNAIR.

       Tanggal 9 Desember adalah tonggak sejarah dimulainya Riset Kesehatan Angkatan Darat. Bertempat di RSPAD Gatot Soebroto, ditandatangani MOU yang menjejakkan riset yang mulai berjalan berbasiskan kaidah keilmuan. Saat itu dipaparkan hasil penelitian Propolis pada Demam Berdarah Dengue dari RSPAD dan Rencana kegiatan Penelitian Ekstrak Cempedak sebagai Profilaksis Malaria kerjasama dengan ITD UNAIR, dimana penelitian pertama sudah publikasi Internasional.

           Penelitian akan terus bergerak, walaupun dalam hening dan berjalan dengan semangat hesti wira sakti. Hal tersebut yang menjadi spirit kami saat memulai penelitian ekstrak cempedak sebagai profilaksis malaria bagi prajurit di perbatasan Nanga Badau Kalimantan. Kami bertiga (dr Soroy Lardo, dr Bagus Sulistyo SpKJ dan Dr Waras Budiman) dengan suka duka menjadi peneliti kesehatan militer, mudah-mudahan membuka spirit bagi peneliti muda hesti wira sakti berikutnya.

Semoga menjadi jejak riset kesehatan angkatan darat……

Bagikan

Leave a Comment