Oleh : Soroy Lardo

 Pendahuluan

            Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) merupakan infeksi yang terjadi pada saluran nafas atas. Infeksi ini dalam konotasi di masyarakat umum sering diistilahkan ‘batuk pilek’ atau ‘influenza’, suatu terminologi kata yang sebenarnya kurang tepat.

            ISPA memiliki dampak klinis dan kesehatan masyarakat. Dampak klinis adalah, menyebabkan berkurangnya kemampuan seseorang bekerja dengan maksimal, disebabkan oleh simtom (gejala) bahkan jika memberat membutuhkan istirahat. Dampak lingkungan dan kesehatan masyarakat adalah, terjadinya penurunan kapasitas produksi kerja di suatu perusahaan, dan jika terjadi penyebaran yang tidak terkendali, dapat menyebabkan suatu outbreak (wabah)

            ISPA dapat terjadi pada organ faring (faringitis), sinus (sinusitis) , tonsil (tonsilitis) dan telinga (otitis media). Dalam tulisan ini dibatasi hanya faringitis dan tonsilitis dikaitkan dengan kondisi tertentu misalnya usia lanjut dan penurunan kekebalan.

Anatomi dan Fisiologi

            Sistem Pernafasan secara harfiah adalah pergerakan oksigen dari atmosfir menuju ke sel dan keluarnya karbon dioksida dari sel-sel ke udara bebas. Untuk menjalankan pertukaran yang tepat diperlukan fungsi normal dari struktur saluran nafas dan sel tubuh untuk mengangkut secara normal.1

            Proses pernafasan terdiri dari beberapa langkah dimana sistem pernafasan, sistem saraf pusat dan sistem kardiovaskular (jantung – paru) memegang peranan yang penting. Sistem pernafasan terdiri dari suatu rangkaian saluran udara agar bersentuhan dengan membran kapiler alveoli, yaitu pemisah diantara sistem pernafasan dan sistem kardiovaskular. Pergerakan udara masuk dan keluar dari saluran udara disebut ventilasi atau bernafas.  Sistem syaraf pusat memberikan dorongan ritmik dari dalam untuk bernafas, dan secara refleks merangsang otot-otot diafragma dan dada yang akan memberikan tenaga pendorong gerakan udara. Difusi oksigen dan karbondioksida melalui membran kapiler alveoli sering dianggap sebagai pernafasan eksternal. Sistem kardiovaskular menyediakan pompa, jaringan pembuluh dan darah yang diperlukan untuk mengangkut gas dari paru-paru ke sel-sel tubuh. Hemoglobin yang berfungsi baik dalam jumlah cukup diperlukan untuk mengangkut gas-gas tersebut. Fase terakhir dari pengangkutan gas ini adalah proses difusi oksigen dan karbondioksida antara kapiler-kapiler dan sel tubuh.1

            Anatomi saluran pernafasan terdiri dari hidung, faring, laring, trakea, bronkus dan bronkiolus. Saluran pernafasan dari hidung sampai dengan bronkiolus dilapisi oleh membran mukosa yang bersilia. Ketika udara masuk ke dalam rongga hidung, udara tersebut disaring, dihangatkan dan dilembabkan. Ketiga proses ini merupakan fungsi utama dari mukosa respirasi yang terdiri dari epitel toraks bertingkat, bersilia dan bersel goblet. Permukaan epitel diliputi oleh lapisan mukus yang disekresi oleh sel goblet dan kelenjar serosa. Partikel-partikel debu yang kasar dapat disaring oleh rambut-rambut yang terdapat dalam lubang hidung, sedangkan partikel yang halus akan terjerat dalam lapisan mukus. Gerakan silia mendorong lapisan mukus ke posterior di dalam rongga hidung, dan ke superior di dalam sistem pernafasan bagian bawah menuju faring. Dari sini lapisan mukus akan tertelan atau dibatukkan keluar. Air untuk kelembaban diberikan oleh lapisan mukus, sedangkan panas yang disuplai ke udara  inspirasi berasal dari jaringan dibawahnyta yang kaya akan pembuluh darah. Jadi udara inspirasi telah disesuaikan sedemikian rupa sehingga bila udara mencapai faring hampir bebas debu, bersuhu   mendekati  suhu tubuh dan kelembabannya mencapai 100 % 1

Anatomi dan Fisiologi  Sistem Pernafasan seperti yang digambarkan dibawah ini :

Gambar 1 : Sistem Pernafasan dikutip dari 1

Etiologi          

Etiologi (Penyebab) dari ISPA adalah virus dan bakteri. Cukup banyak strain (jenis) penyebab penyakit ini. Penyebab virus diantaranya rhinovirus, corona virus sebagai penyebab yang umumnya tidak menjadi berat. Jika penyebabnya adalah virus influenza (adenovirus, influenza virus dan para adenovirus) dapat berkomplikasi menjadi berat. Penyebab virus yang jarang adalah  Herpes Simplex Virus (HSV) dengan penyebab coxsackievirus, Epstain Barr Virus (EBV), Cytomegalovirus (CMV) dan jangan dilupakan HIV.2-4

            Sedangkan penyebab bakteri adalah Group A b-hemolytic streptococcus (GAHBS), yang jika tidak ditangani dengan baik, penyebaran bakteri ini dapat berkomplikasi demam reumatik ( rheumatic fever) dan peradangan pada ginjal (glomerulo nephritis)3

Epidemiologi

            Kejadian Faringits dan Tonsilitis dijumpai 10 % di pelayanan primer dan 50 % menggunakan antibiotik. Meningkatnya kunjungan pelayanan ke pelayanan primer walaupun dengan gejala ringan, kesadaran penyebaran yang tinggi terutama di sekolah dan lokasi kerja menyebabkan tingginya kunjungan ke poliklinik. ISPA dalam kondisi tertentu diberikan antibiotik dimana sekitar 25 % disebabkan oleh bakteri.2-3

Gejala Klinis

            Gejala klinis Faringotonsilitis secara umum merupakan gejala akut yang ditandai oleh demam, nyeri tenggorokan (sore throat), mual, muntah, sakit kepala dan kondisi yang jarang disertai nyeri perut. Pada pemeriksaan fisik awal akan didapatkan gambaran peradangan (kemerahan) pada tenggorokan dan tonsil, jika diamati ditandai dengan membesarnya kelenjar limfe pada leher atas (cervical). Manifestasi klinis sangat bervariasi tergantung dari penyebabnya. Pada kondisi yang jarang dapat terjadi eritema, petekiae, eksudat dan follikel. Gambaran eksudat pada faring dapat  disebabkan oleh GAHBS. Kondisi adanya lesi ulseratif disebabkan oleh enterovirus, adanya gambaran membranous pada faring disebabkan oleh C. Diphteria. Petekiae sering terjadi pada GABHS, Epstein barr vius, measles dan infeksi virus rubella.3-4

            Jika penyebabnya virus, dengan daya tahan tubuh yang baik maka akan membaik dalam  4-10 hari, umumnya disertai dengan sekresi nasal (hidung). Jika penyebabnya bakteri gejala akan lebih lama dan penyebabnya bakteri an aerob dapat disertai dengan membesarnya  tonsil dan ulserasi.4

Diagnosis

            Diagnosis suatu ISPA ya…tidak mudah. Prinsipnya disebabkan oleh bakteri dan virus. Tujuan diagnosis adalah untuk membedakan apakah penyebabnya bakteri streptokokus, sehingga efisien untuk memberikan antibiotik lebih awal.  Diagnosis dilakukan dengan apusan (swab) pada tenggorokan dan selanjutnya dilakukan kultur  dalam 24-48 jam. Deteksi antigen bakteri  memiliki spesifisitas  > 90 % namun  sensitivitasnya rendah jika diaplikasikan di pemeriksaan rutin.  Menurut CDC deteksi cepat antigen dan kultur dapat dilakukan untuk virus jika terdapat dugaan terhadap infeksi tersebut yang dilanjutkan dengan pemeriksan kultur. Pemeriksaan tersebut dilakukan terhadap HSV, EBV, CMV dan M pneumonia.2

Pengobatan

            Pengobatan ISPA tergantung dari penyebabnya. Jika penyebabnya adalah adalah GABHS pemberian antibiotik sudah dapat diinisiasi. Golongan antibiotik yang umumnya diberikan adalah  oral penicillin, Amoxicillin. Amoxicillin tidak dianjurkan jika penyebabnya adalah mononukleus. Khusus untuk faringotonsilitis akut terdapat pilihan antibiotik lain yaitu golongan cephalosporin, linkomisin, klindamisin, makrolid dan amoksisilin clavulanat.4

Golongan makrolid (klaritromisin dan azitromisin) merupakan pilihan terapi alternatif yang lebih baik dibandingkan eritromisin, jika digunakan untuk jangka panjang dengan efek samping kepada sistem saluran cerna (gastrointestinal). Beberapa keberhasilan lain tehadap tonsilitis akut disebabkan GABHS adalah dengan penggunaan cephalosporin. Cephalosporin meningkatkan efikasi aktivitasnya terhadap bakteri aerobik seperti S. Aureus, Haemophilus spp dan M catarrhalis.4

            Penggunaan antibiotik berdasarkan beberapa penelitian dapat dilakukan dalam lima hari atau lebih, prinisipnya pemberian antibiotik dini diharapkan mempercepat resolusi tanda dan gejala penyakit, terutama hilangnya demam dalam 3-4 hari.4

Rekurensi, Komplikasi dan Komorbid

            Kondisi yang perlu menjadi perhatian adalah jika terjadi suatu rekurensi dan kronik faringotonsilitis kronik, kemungkinan disebabkan oleh kegagalan terapi penisilin sebelumnya. Sedangkan untuk komplikasi yang perlu diperhatikan adalah berkembangnya penyakit diakibatkan keterlambatan penanganan, diantaranya komplikasi GABHS terjadinya peritonsilofaringitis abses, glomerulonefritis dan penyakit jantung rematik. Untuk itu indikasi penggunaan antibiotik lain terhadap kegagalan penggunaan penisilin dapat dilihat dari tabel dibawah ini :4

Tabel 1 : Indikasi penggunaan antibiotik lain selain penisilin pada tonsilitis

Adanya produksi betalaktamase dari bakteri (eksposur antibiotik sebelumnya)
Ketiadaan pengaruh dari flora (Antibiotik sebelumnya)
Tonsilitis GABHS berulang
Kegagalan sebelumnya dalam eradikasi GABHS
Kegagalan yang tinggi penisilin pada komunitas
Komorbid penyakit
Alergi penisilin (non type 1)

Dikutip dari 4

            Faktor lain yang perlu menjadi perhatian adalah kondisi khusus adanya usia lanjut, komorbid (DM, Hipertensi dan Paska stroke) dan HIV. Keadaan seperti ini menyebabkan disfungsi sistem kekebalan tubuh ( makrofag dan netrofil) sehingga menjadi rentan jika terkena infeksi.2,4

Vaksinasi

            Apakah vaksinasi perlu ? Tergantung dari beberapa faktor. Jika didapatkan data kasus Tonsilofaringitis tinggi dengan data penyebab yang jelas mungkin perlu dipertimbangkan, terutama terhadap kasus-kasus yang disebabkan oleh virus. Vaksinasi menjadi keniscayaan terutama pada usia lanjut dan mengadakan suatu travel ke negara yang diduga angka kejadian influenza-nya tinggi.

            Beberapa data menunjukkan manfaat program vaksinasi dewasa yaitu (1) Vaksin influenza pada orang dewasa usia < 65 tahun, terjadi penurunan insidensi influenza sebesar 70-90 %, (2) pada usia lanjut yang dirawat di rumah jompo didapatkan penurunan insidensi sebesar 30-40 %  kasus influenza, 50-60 %  kasus influenza yang membutuhkan perawatan, dan penurunan mortalitas sebesar 70-100 % .5

Kesimpulan

            ISPA merupakan infeksi saluran nafas yang umum didapatkan di masyarakat. Pemahaman yang faktual dibutuhkan terkait dengan luasnya varian penyakit ini. Jika penyebabnya bakteri dapat diinisiasi dengan bakteri. Perlu perhatian khusus pada pasien komorbid (usia lanjut, DM) dan penurunan daya tahan tubuh (HIV).

Dr.dr. Soroy Lardo, SpPD , Spesialis Penyakit Dalam RSPAD Gatot Soebroto

Disampaikan dalam Ceramah Awam Biro Arsitek

Daftar Pustaka

  1. Price AS, Wilson LM. Fungsi Pernafasan Normal. Dalam Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 1995.h.645-60
  2. Rubin MA, Ford LC, Ralph Gonzales. Pharyingitis, Sinusitis, Otitis, and other Upper Respiratory Tract Infection. In Kaspers DL, Faucy A (Eds). Harrrison’s Infectious Diseases 2nd Edition. Mc Graw Hill. 2013.p 192-204
  3. Mc Phee SJ, Papadakis MA. Pharingitis and Tonsilitis. In Current Medical Diagnosis and Treatment. Mc Graw Hill. 2017. p 207
  4. Brook I. Pharingotonsilitis. In. Schlossberg D. Clinical Infectious Diseases. Cambridge University Press. 31-38
  5. Djauzi S, Anindito B. Manfaat Imunisasi Pada Orang Dewasa. Dalam Djauzi S, Koesno S, Sari C, Yogani I. Pedoman Imunisasi Pada Orang Dewasa. Balai Penerbit FKUI. h-9
Bagikan
Translate »